Senin, 12 Januari 2009

Lagi-lagi Ban Kempes

Oleh: Sandy Gunarso Wijoyo, S.Kom

Pagi ini cuaca tak bersahabat. Sejak subuh, hujan sudah turun basahi seluruh rumahku.
Mulai atap sampai halaman rumah basah semua.
Tak sejengkal pun dari mereka didiamkan kering.

Semilir angin mulai ku rasakan. Sesaat ayahku membuka pintu depan. Awalnya udara terasa sejuk, namun makin dirasa tubuh ini menggigil perlahan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6.00. Ku pikir sudah waktunya untuk berangkat ke kantor.
Tak disangka, rupanya ban motor depanku yang masih berusia satu hari, kempes dan nyaris rata dengan tanah.

Ohhhh.....

Celaka, aku rupanya harus berangkat menggunakan kendaraan umum yang aneh dan lama.

Keadaan yang sudah aku perdiksi sebelumnya itu ternyata benar terjadi. Setibanya aku di depan kompleks rumah, aku mulai menunggu kendaraan umum.

Semenit berlalu, kendaraan belum juga datang.
Dua puluh menit berlalu, kendaraan yang ku tunggu juga belum kunjung tiba.

Aku terus melihat jam baru ditanganku.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit.
Aku mulai kawatir dan rasa risau perlahan menyapa hatiku.

Keringat dingin yang bercampur dengan air hujan mulai membasahi tubuhku yang besar.
Dan seketika itu, aku bertambah dingin. Dingin mulai merambat dari pundakku hingga telapak kakiku.

Kondisi itu membuatku tersadar untuk segera mencari alternatif lain.
Dengan kondisi basah, aku memilih kendaraan seadanya. Dalam benakku yang terpenting adalah dapat tiba di kantor tepat waktu.

Hal itu membuat tujuanku harus berubah arah. Yang tadinya melalui jalur pluit kota, sekarang harus melalui harmoni baru menuju kota. Yang semula ingin menggunakan kendaraan ELF, sekarang harus menggunakan BUSWAY.

Bukan masalah. Pertunjukkan harus tetap berlangsung.
Setibanya aku di depan terminal Kalideres, aku bergegas menuju ke terminal busway.
Aku terkejut bukan kepalang. Ternyata ratusan orang telah menunggu di sana. Terminal seluas sepuluh kali delapan meter persegi itu sesak dengan manusia yang entah dari mana datangnya.

Aku pun mengantri dengan sabar. Karena baru pertama kali berangkat dengan Busway, aku masih tegang. Baru saja mendapatkan antrian, aku sudah segera bertanya. Setelah itu, ku beli karcis dan masuk ke dalam ruang tunggu bus.

Pikiran ku tak langsung tenang. Aku masih terus memeriksa arah tujuanku seksama. Kepalaku berputar melihat arah tujuan dari semua jalur bus yang ada. Tak terasa bus ku menuju harmoni datang. Antrian di depanku pun mulai bergerak maju. Dan akhirnya aku pun berada di dalam bus.

Awalnya sih nyaman berada di busway yang terasa dingin oleh AC yang ada tetap di atasku.
Pakaian basah dan sepatu yang enggan kering segera membuatku harus menggigil ringan di dalam bus.

Bus terus melaju dengan santai. Mungkin kecepatannya hanya kisaran duapuluh atau empatpuluh kilometer perjam. Satu persatu terminal pun dilalui.
Penumpang pun tak semuannya dianggkut bersama bus yang aku naiki.
Mereka hanya mengantri dan terus menunggu bus yang selanjutnya akan datang.

Pikiran baikku segera menarik keharuanku. Aku mulai membayangkan betapa menderitanya mereka yang harus berangkat pagi-pagi setiap hari menggunakan busway. Dan aku mengerti alasan mengapa setiap orang di dunia ini bekerja untuk membeli sebuah mobil pribadi.

Satu jam berlalu, bus yang aku tumpangi tiba di Terminal Busway Harmoni.
Wah, suasana di terminal itu lebih padat dari Terminal Kalideres.
Antrian yang semula hanya empat banjar, di sana, antrian lima banjar.
Suasana dingin yang semula memelukku erat, perlahan berubah menjadi hangat yang setia menemaniku.

Aku pun harus kembali berdiri di antrian panjang tak kunjung habis.

Selama waktu menunggu, aku tak menyadari satu hal. Barisan kaum intelek di hadapanku itu rupanya adalah barisan yang salah bagi ku. Arah ratusan orang itu rupanya menuju ke Blok M Jakarta. Sementara aku akan pergi ke arah Kota.

Untungnya, aku berniat nakal. Setelah kulihat keadaan sepi di barisan sebelah kanan ku. Aku coba untuk menyelinap dan lari ke depan.
Ternyata, kenakalanku itu justru menolongku untuk menyadari bahwa aku sudah mengantri di jalur yang salah.

Ya sudahlah, akhirnya aku terpaksa mengantri kembali di barisan panjang yang membosankan.

Tak lama aku mengantri, kurang lebih sepuluh menit berlalu, aku mendapatkan bus yang aku mau.

Dan sekejap mata, bus sudah tiba di Terminal Stasiun Kota, Jakarta.
Ku beranikan kembali untuk menyapa jam tanganku yang tampak ikut kedinginan.

Sekali lagi aku terkejut. Dari dalam jam tangan itu, aku melihat ukiran angka yang tertulis delapan lewat duapuluh empat. Dan berarti aku disisakan waktu hanya enam menit untuk sampai di kantorku.
Tubuh tambunku kembali menegang. Bukan karena rangsangan dari cuaca lagi, melainkan ketegangan karena waktu yang ku perlukan sudah habis. Dan berarti aku harus kehilangan sedikit gajiku untuk perusahaan.

Melihat kondisi itu, aku hanya pasrah. Aku yang semula ingin menggunakan kendaraan umum, kini hanya berniat untuk berjalan.
Walaupun jarak sekitar dua kilometer dari stasiun kota ke kantorku, tapi tak mengapa kaku lalui dengan berjalan kaki.

Genangan air yang tak mau beranjak, ditambah oleh awan hitam yang terus menangis, membuat tubuh ini kian menggigil.
Untungnya, aku punya kaki yang panjang. Sehingga aku dapat melangkah jauh lebih cepat.
Dua puluh menit kemudian, aku tiba di kantor.
Begitu menginjakkan kaki di atas karpet yang tertidur nyenyak, aku hanya bisa bersyukur dan menghela nafas.

Setidaknya aku sampai dengan selamat. Ya, walaupun gajiku melayang setetes, namun aku masih bisa masuk dan bekerja dengan penuh semangat.

Minggu, 11 Januari 2009

Metode Pembinaan Diri Yang Teristimewa dengan ThienTao (Jalan Ketuhanan)

Metode Pembinaan Diri Yang Teristimewa dengan ThienTao (Jalan Ketuhanan)

by: Unknown

Beruntung sekali Housie (saya) bisa masuk ke dalam Thien Tao, tak terasa hingga kini sudah 30 tahun lebih lamanya, ini adalah merupakan sebuah ikatan jodoh yang teristimewa. Mungkin karena mengikutinya kian lama kian dalam, kian merasakan keteristimewaan kepercayaannya terhadap Thien Tao, sungguh tak bisa semua diurai kan dengan kata-kata. Terlebih hal kemuliaan satu titik petunjuk dari guru penerang, boleh dibilang telah mendapat pengakuan semua umat. Satu titik petunjuk ini, sungguh melebihi manfaat kitab suci apa saja. Dari semula yang ‘ tak memiliki apa-apa’ langsung berubah menjadi ‘ tiada yang tak dimiliki’; dari semula yang ‘apa saja selalu dicarinya’ langsung berubah menjadi ‘tiada satu apapun yang perlu dicari lagi’, satu titik petunjuk ini, dapat langsung menembusi segala hal dan segala keberadaan, oleh sebab itu ada kata-kata dari nabi Khong Hu Cu yang mengatatakan : “Jalan Suci(Tao)ku itu Satu, tetapi menembusi semuanya.” Inilah yang dikatakan ‘rongga yang satu itu jika sudah bisa tertembuskan, ratusan rongga akan ikut tertembuskan, seluruh rongga yang ada akan ikut tertembuskan.’ Satu titik petunjuk ini telah dengan nyata merubah pembawaan seekor burung seriti yang bersarang di pagar-pagar orang langsung menjadi burung ‘rajawali’ yang dengan leluasanya terbang tinggi di atas cakrawala yang bebas untuk menjelajahi langit dan bumi yang luas ini, oleh sebab itu ada sebuah artikel dari nabi Cuang Tze, yaitu ‘Siao Yao You’, artinya melanglang dengan leluasanya’ (dalam artikel tersebut melukiskan keleluasaan terbang seekor burung rajawali yang didambakan oleh beliau). Inilah yang dikatakan ‘satu pikiran-hati tertuntaskan, tiga pikiran-hati tertuntaskan, semua pikiran-hati telah tertuntaskan semua.’

Satu titik petunjuk ini, telah menyadarkan saya, membuat saya jadi ‘sadar seketika’, mengerti ‘dari mana asalnya dan akan menuju ke mana kelak’; ada target tujuan yang dituju, ada ‘jalan’ yang bisa ditempuh, tak sampai bingung kehilangan arah dan akal, sehingga sampai menemukan jalan buntu di mana-mana.

Satu titik petunjuk ini, telah menyadarkan saya, membuat saya jadi ‘lapang dada dan tenang’, paham akan mana yang sejati dan mana yang palsu, mengenal dengan jalas secara hakiki antara yang sejati dan palsu, selangkah lebih maju, bisa meminjam yang palsu untuk membina yang sejati, bertindak mengikuti kaedah ‘hakekat kebenaran’; sehingga tak sampai membelakangi kesadaran dan mengikuti arus duniawi, menempuh arah yang berlawanan dengan hakekat kebenaran.

Satu titik petunjuk ini, telah menyadarkan saya, membuat saya jadi ‘alami’, mengerti bagaimana agar dapat ‘tumbuh menjadi tinggi dan besar’. Gunung Thai-San tak menampik keberadaan batu-batu yang hanya sebesar kepalan tangan, oleh sebab itu bisa menjadi tinggi; laut tak menolak air dari aliran sungai-sungai yang kecil, oleh sebab itu bisa menjadi besar. Manusia, hanya dengan mendapatkan ‘Satu’, baru bisa menjadi ‘besar’, memupuk kebajikan bisa menjadi tinggi.

Satu titik petunjuk ini, telah menyadarkan saya, membuat saya jadi ‘tenang dan sabar’, paham benar ‘harus bagaimana menjaga yang tengah’ (keseimbangan), kemantapan jadi tambah besar, kecerdasan nuraninya jadi terbuka; sehingga tak mudah untuk mengumbar perasaan senang, emosi, sedih, gembira, takut dan lain sebagainya, sekalipun harus berperasaan seperti yang disebut tadi, akan tetapi menyadari tetap berada pada kaedah kepatutan, yaitu cukup dengan batas secukupnya, tepat sasaran, (‘tepat sasaran’ dalam mandarin disebut ‘cong = tengah; imbang; tepat sasaran’) oleh sebab itu apa yang telah dikatakan jarang sampai timbul rasa sesal diri, apa yang dilakukan jarang sampai timbul menyalahkan orang.

Satu titik petunjuk ini, telah menyadarkan saya, membuat saya tiba-tiba sadar menjadi sama sekali tidak lagi mengejar nama dan kepentingan, hambar terhadap nama dan kepentingan, pikiran menjadi tentram, tenang, hening dan damai, sehingga bisa berpikir lebih jauh kedepan, terlepas dari belenggu nama dan kepentingan; tak tamak akan ketenaran, tak serakah akan keuntungan, tak suka gunakan kekuasaan dan mementingkan kekuasaan, sehingga tiada beban batin dan terasa leluasa, tiada menuntut apa-apa lagi.

Satu titik petunjuk ini sungguh berharga, tapi jika tidak dihayati takkan sadar, tanpa dijalankan juga takkan mengerti; hanya kecuali dirinya benar-benar menghayati dan menjalankannya baru bisa cepat memahaminya. Akan tetapi satu titik petunjuk ini juga hanyalah merupakan suatu awal, suatu permulaan. Satu titik ini, adalah satu rongga kecil, membuat kita ‘yakin (menguatkan dan membenarkan) akan keberadaan dirinya’. Meyakinkan diri bahwa saya adalah orang yang punya ‘Tao’, tidak akan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan ‘Tao’; meyakinkan diri bahwa saya adalah ‘orang yang punya Tao dan bermoral, oleh sebab itu hal-hal yang melanggar kaidah Tao dan tak bermoral atau yang melawan Tao dan merusak moral takkan saya lakukan.’ Jika setiap orang (yang mendapat satu titik petunjuk) semuanya berjanji sedemikian rupa pada dirinya, sudah dengan sendirinya dunia ini menjadi damai. Selanjutnya masih ada suatu yang ibaratnya bentangan lautan roh- watak-jati-diri yang luas dan dalam, tentang sifat kekekalan hakekat kebenaran yang sejati yang memang seperti itu serta tiada mengalami perubahan, dan ini merupakan suatu lahan pusaka, menunggu kita membuka, menggali dan memanfaatkan; gudang pusaka roh-watak- jati-diri insani yang bisa menyumber tanpa habis-habisnya ini menunggu kita mengeksploitasinya (menggali dan memanfaatkan). Agar kecemerlangan kodrat manusia ini dapat tersembul keluar dengan cemerlangnya; kian cemerlang kian mustajab, kian mustajab kian terang; membinanya sampai tingkat puncaknya, yaitu ‘mewujudkan diriku yang benar-benar nyata’. Agar umat sedunia mengerti keberadaan kita, dengan demikian barulah dikatakan tak menyia- nyiakan semasa hidup ini, tak sia-sia datang lahir ke dunia ini.

Keistimewaan dalam menganut kepercayaan Thien Tao, tidak hanya terbatas sampai di sini saja, ‘dia’ membuat kita :

1. Mendapatkan sebuah jalan yang bisa mengembangkan potensi diri secara tajam dan gamblang, secara hidup dan jelas, lagi pula bisa membawakan dirinya, menghidupkan pemikiran dirinya dengan seutuhnya.

2. Mendapatkan sebuah jalan kehidupan yang membawakan kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan dan penuh arti.

3. Mendapatkan sebuah jalan menuju pelepasan, tidak lagi diikat, tak sampai dipermain kan oleh nafsu, kecuali terikat oleh keselarasannya dengan hakekat kebenaran.

4. Mendapatkan sebuah jalan yang mengerti merubah tabiat jelek dan kebiasaan buruk dirinya, bisa menanggalkan perasaan egois dan pandangan yang keliru, selangkah lebih lanjut mulai memikirkan demi kepentingan orang lain, sering sering menguntung kan orang lain, tidak saja untuk kebaikan sesaat, tapi juga untuk kebaikan sepanjang masa.

5. Mendapatkan sebuah jalan yang memberi kesempatan dirinya bisa tanpa hentinya terus menerus untuk belajar, mengembangkan dirinya, mendedikasikan dirinya secara paling cepat dan paling efektif.

6. Mendapatkan sebuah jalan yang bisa membuat dirinya tahu dari mana asalnya dan kelak akan menuju kemana akhirnya, sehingga bisa kembali ke asal sumbernya, kembali ke akar dan mengenal Bunda Suci.

Metode membina diri Thien Tao ini, bisa dijalani layaknya metode bina diri seorang rahib tapi tanpa meninggalkan keluarga, tak perlu meninggalkan keluarga untuk mencari penampungan diri lagi. Cukup sederhana dan berkemudahan, mudah dipahami dan dilakukan, lagi pula bisa menarik manfaatnya seumur hidup. ‘orang bilang, membina dengan mengikuti metode ini, surga langsung berada dihadapannya.’ Tak terhingga senang dan bahagianya, juga membuat pembelajaran bisa menuai hasil, membuat peran yang dimainkan setiap individu menjadi sangat berhasil.

Tidak pandang apakah anda adalah seorang presiden, menteri, jendral, gubenur, ataukah seorang pedagang asongan, kuli, pesuruh, pembantu; tak pandang apakah Anda adalah seorang cendekiawan yang mempunyai segudang ilmu atau buta huruf sama sekali; tak pandang apakah anda adalah seorang hartawan milyarder atau seorang yang tak berduit sepeser pun; sama sekali tidak masalah, juga tak ada larangan. Meskipun raga berada di rumah, tapi hati dan pikiran sudah seperti seorang rahib; meskipun raga berada di dalam lingkungan duniawi, tapi hati dan pikiran tak tercemari, ternodai atau terkontaminasi oleh objek duniawi; meskipun raga berada dalam bentuk wujud rupa, tapi hati dan pikiran meninggalkan bentuk wujud rupa; meskipun raga berada searus dengan orang yang mengikuti arus jaman, tapi hati dan pikiran tak ikut-ikutan terkotori untuk berpikir yang tak terpuji. Dari tampak luar, orang tak tahu kalau anda sedang membina diri, anda telah nyata menjadi seorang rahib yang berpakaian awam. Karakteristik kecakapan sangat beda jauh dengan orang pada umumnya; apa yang dipandang penting oleh orang lain, anda sudah pandang hambar padanya; apa yang diperebutkan oleh orang-orang, anda sudah meninggalkannya; apa yang membuat orang-orang melekat padanya, anda telah melepaskannya; apa yang dipandang penting kebanyakan orang adalah masalah yang ada di hadapannya, yang sesaat, hanya untuk kepentingan semasa hidup ini, sedangkan yang anda pandang penting adalah masalah di kemudian hari, adalah rencana panjang, untuk jauh ke depan, bahkan untuk kepentingan beribu-ribu tahun; apa yang membuat orang-orang melekat adalah sayang istri dan anak, sedangkan yang membuat anda melekat adalah kasih mulianya pada sesama umat; apa yang diperebutkan orang adalah nama, kepentingan, keuntungan, harta dan kekayaan, sedangkan yang anda perebutkan adalah jasa pahala dan kearifan.

Dia memberitahu kepada anda di mana letaknya ‘ hati ’ itu, bagaimana ‘menarik kembali pikiran-hati’. Hati-pikirannya tidak sampai berkeliaran di luar, menarik kembali pikiran-hati merupakan jaminan kebahagiaan; begitu pikiran-hatinya berkeliaran di luar, sering menjadi akar sumber kerisauan. Jika pikiran-hati sudah ditarik kembali, maka Sang ‘Tengah’ (keseimbangan) terjaga; saat Sang ‘Tengah’ (keseimbangan) terjaga, maka tiada timbul perasaan gembira, marah, sedih, senang (Kitab Tengah Sempurna: Perasaan gembira, marah, sedih, senang, sebelum timbul, dinamai Tengah (keseimbangan); jika sudah tiada rasa gembira, marah, sedih dan senang, maka tenteramlah hatinya. Dengan demikian maka bisa senantiasa jernih, hening dan tenang pikirannya, dengan demikian barulah bisa terus menerus memikul beban dan terus menerus melepaskan; sebaliknya terus menerus melepaskan dan terus menerus memikul beban; setiap harinya bisa mengatur banyak sekali permasalahan tanpa kacau pikirannya; tak ternodai sedikitpun oleh objek duniawi, tak ada sedikitpun pemikiran yang timbul, senantiasa jernih, hening, dan tenang.

Dia memberitahu kepada anda di mana letaknya ‘ hati ’ itu, bagaimana ‘memiliki niat’. Pepatah mengatakan: “ Di dunia ini tiada hal yang sulit, hanya ditakutkan pada orang yang punya niat hati ”, “Di dunia ini tiada rencana yang sangat sempurna, semuanya hanya tergantung pada orang yang punya niat hati ”. punya niat hati barulah bisa mengatur dan meng atasi segala permasalahan apa saja.

Dia memberitahu kepada anda di mana letaknya ‘ hati ’ itu, bagaimana ‘ membina hati ’. agar hatinya tak sampai tercemar, biar putih bersih, sebersih-bersihnya. Seret keluar lalu basmi sumber pencemaran hati, jaga aturan berpantang, setelah dapat mengikis nafsu ‘ketamakan’, pupuklah ‘kemantapan’; setelah dapat menyingkirkan ‘kedengkian’, hidupkan atau nyalakan ‘kecerdasan nurani ’, singkirkan sekaligus ‘ kedunguan ’. Jaga teguh pantangan, kemantapan, kearifan, singkirkan ketamakan, kedengkian dan kebodohan, sejak itu teranglah hatinya, tiada lilitan, tiada kekhawatiran.

Dia memberitahu kepada anda di mana letaknya ‘ hati ’ itu, bagaimana ‘ menggunakan hati dan pikiran ’, ( yaitu menaruh dan memusatkan perhatian, juga menekuni ), apa yang oleh hati dan pikiran sudah pernah mencurahkan, tentu akan mendapatkan kesan yang lebih dalam; dan apa yang sudah ditekuni, pastilah meninggalkan bekas atau hasil. Gunakan hati dan pikiran untuk mengupayakan hubungan antar sesama, menjalin jodoh kebaikan seluas-luasnya; gunakan hati dan pikiran untuk memikirkan kepentingan orang lain, hidupkan dirinya di mata hati orang-orang; gunakan hati dan pikiran untuk mengembangkan potensi yang terpendam, kembangkan dan gunakan sebaik-baiknya bakat dan kepintaran, agar tidak menyia-nyiakan anugerah Tuhan dan menjadi mubazir, sehingga menyesal seumur hidupnya.

Dia memberitahu kepada anda di mana letaknya ‘ hati ’ itu, bagaimana ‘berupaya sepenuh hatinya’. Bisa berupaya sepenuh hati dan sepenuh tenaga , hasilnya pastilah serba baik dan indah. Setiap urusan ditangani dengan sepenuh hati, pastilah berhasil; demikian pula di dalam hal membina diri (Tao), menggunakan niat dengan sepenuh hati, tentulah berhasil; dengan menggunakan sepenuh hati dan tenaga, tiada pekerjaan yang tak berhasil, sekeras dan setangguh apa pun pasti terjebolkan oleh kekuatkan yang menggunakan hati-pikiran dan tenaga yang sepenuhnya.

Dia memberitahu kepada anda bagaimana hendaknya mensinergikan (bertindak secara bersamaan atau secara terpadu) antara ‘hati’, ‘mulut’ dan ‘badan’, mensinergikan tenaga yang sekaligus mencakup ‘alam abadi’, ‘alam hawa’ dan ‘alam berwujud’. Menjaga Sang ‘Tengah’ (pusaka pertama) dapat membantu membina sang ‘hati’, membaca mantra suci bisa berguna bagi membina sang ‘mulut’, sedangkan melakukan ibadah sujud (khou thou) dapat bermanfaat bagi membina Sang ‘badan’. Yang dimaksudkan dengan membina Sang ‘hati’ ialah senantiasa mempunyai niat hati yang baik, sedangkan membina Sang ‘mulut’ ialah senantiasa bertutur-kata yang baik, dan membina Sang ‘badan’ ialah berpikir setiap saat bisa melakukan hal-hal yang baik; dengan demikianlah caranya mensinergikan, dengan lambat laun, setahap demi setahap, sedikit demi sedikit memupuknya, selang beberapa waktu, dengan cara demikian memupuk jasa dan kebajikan, hasilnya sungguh tak terbayangkan.

Keteristimewaan dengan menganut kepercayaan Thien Tao, selain ‘yakin (menguatkan dan membenarkan) akan keberadaan dirinya’ yaitu karena kita telah mengadopsi (mengambil untuk diterapkan) Tao ke dalam diri kita, dengan kata lain, ‘Tao berada pada diriku, di luar diriku tiada Tao’; keteristimewaan lainnya ialahTao berada di dalam kewajaran kehidupan sehari-hari’. ‘yang namanya Budha sejati hanyalah membicarakan kehidupan keluarga atau berumah tangga sehari-hari’, membina diri (Tao) dan berkarya ketuhanan (Tao) juga berada di dalam kesewajaran kehidupan sehari-hari, biasa biasa saja tiada apa-apa yang aneh. Sedangkan mengenai pelatihan ‘suci di dalamnya dan berfigur raja (berkarisma) diluarnya’, juga tetap harus dimulai dari kehidupan sehari hari, sederhana dan mudah dijalankan. Di bawah ini saya sebutkan beberapa poin, saya persembahkan untuk para budiman sekalian sebagai pertimbangan atau acuan.

1. Suci di dalam batinnya --- akhlak budi yang internal sifatnya, diberi muatan Tao :

Tujuan untuk mensucikan batinnya ialah untuk ‘mempertahankan yang sudah ada sejak mulanya, dan membuang yang pada mulanya memang tidak ada’. Orang pada umum nya bisa sampai gelap batinnya, ialah karena tak dapat membedakan dengan jelas antara ‘yang memang ada sejak mulanya’ dengan ‘yang tadinya memang tidak pernah ada’. Roh sejati adalah sudah ada sejak semulanya, akan tetapi malah dianggap tidak ada; jasad raga ini, yang pada mulanya memang tidak ada, akan tetapi malah dianggap ada. Sehing ga lalu menganggap yang palsu sebagai yang asli, dan meninggalkan pencerahan batin malah mengikuti arus duniawi. Orang pada umumnya bisa sampai menjadi gelap batinnya, ya karena tak paham akan hakekat kebenaran.itulah, yang dikenal hanyalah wujud rupa yang palsu dan yang berubah-rubah itu saja, sehingga membuatnya serba bingung (ragu, bimbang, sangsi dan bingung). Dari sebab kebingungan itu lalu menciptakan karma, sungguh patut disayangkan sekali! Lalu bagaimanakah sesungguhnya dan sebaiknya memulainya dari kehidupan sehari-hari?

(a) Sering-sering mawas diri :

Setiap malam sebelum tidur, mata dipejamkan delapan puluh persen dan hanya terbuka sedikit saja, yaitu dua puluh persen, pikirlah sejenak sejak bangun tidur pagi hari matanya terbuka, sampai detik ini kala dipejamkan matanya, pernah punya niat hati pikiran apa saja? Pernah ucapkan kata-kata apa saja? Pernah lakukan tindakan apa saja? Adakah salah miliki niat hati-pikiran? Salah ucapkan kata-kata? Salah lakukan tindakan? Jika ada maka hendaknya rubahlah, jika tiada maka patut didorong maju. Lakukan seperti ini terus menerus, tak saja cara ini bisa membantu menambah daya ingatan, terlebih dari itu malah sangat kentara kegunaannya terhadap peningkatan (mutu) alam batin dan praktik pembinaan dirinya.

Dalam mawas diri, acuan bahan yang bisa dan boleh dipakai untuk mawas diri sebenarnya tak akan kekurangan untuk dipakai. Seperti misalnya kata-kata mutiara dari para suci dahulu kala, laku kebajikan dari para arif bijak dahulu, semuanya masuk dalam daftar. Contohnya: Mawas diri dalam tiga hal dari nabi Ceng Ce; Empat pantangan dari nabi Yen Hui, seluruh isi kitab dari kitab Lun Yi (Kitab Sabda Suci nabi Khong Hu Cu) adalah kata-kata indah di dalam memori ingatanku. Akan tetapi yang patut dihargai adalah dihayati betul-betul dan dipraktikkan sungguh sungguh, selangkah demi selangkah, maju mengikuti jejak langkah para suci dahulu, hingga sampai akhirnya berhasil, dan dengan sendirinya layak lolos masuk ke tingkatan para bijak dan mendapat tempat di alam para suci, bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para suci, bisa berpadu dengan terangnya mentari dan rembulan.

Saat mawas diri, sering kali bisa menemukan betapa banyak kesalahannya, atau kadang ada semacam perasaan bersalah yang cukup serius, jika bisa seperti itu, maka boleh dikata sudah mendekati sisi tepi area para suci. Ini sama seperti sebuah ungkapan yang sering dikatakan ‘orang suci banyak salahnya, orang bijak sedikit salahnya, orang yang kerdil jiwanya tidak punya kesalahan.’ Mengapa orang suci banyak salahnya? Tak lain hanyalah karena para suci menjadikan urusan umat dan dunia sebagai tanggung jawab dirinya, menanggung kesalahan umat sejagad; orang lain punya kesalahan ditanggungnya sebagai kesalahan dirinya, karena merasa sebelumnya belum dengan secara jelas memesannya, dan tentunya adalah kesalahan dirinya, oleh sebab itu banyak kesalahan. Sedangkan orang bijak berani berbuat, berani bertanggung jawab, paling tidak mau memikul kesalahan atas perbuatan dirinya, oleh sebab itu sedikit kesalahannya. Orang yang kerdil jiwanya tak dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar, sehingga tak tahu dirinya punya kesalahan, maka menganggap dirinya tak bersalah; sekalipun punya kesalahan, juga diingkarinya sama sekali, kalau sudah seperti itu, mana ada salahnya? Oleh sebab itu orang macam itu tiada bersalah.

(b) Damai hatinya, ramah pembawaannya :

Orang kalau sedang marah, dengan sendirinya tinggi emosinya, maka tindakan yang dilakukan, tentu cenderung terburu nafsu dan salah tingkah, sudah kehilangan keseimbangan (‘Tengah’), keputusan yang diambil tentu hanya berdasarkan satu pertimbangan tapi tak terpikirkan banyak akibat buruknya. Sering terjadi adanya sementara orang yang punya suatu rencana muslihat, dia sengaja membuat marah orang, selanjutnya memaksa orang tersebut mengambil suatu keputusan, membuat orang itu gara gara keputusan yang diambilnya itu membawa akibat penyesalan seumur hidupnya. Betapa jahat hatinya, betapa memuakkan dan menjijikkan melihat wajah orang seperti itu. Oleh karena itu patut dipikirkan matang-matang, kalau ada orang sengaja ingin membuat anda marah, janganlah sekali-kali anda menjadi marah. Karena anda tidak marah, maka malah gantian dia yang marah (karena maksud buruknya tak tercapai). Dan sekali anda marah, maka telah masuk perangkapnya; lagi pula jika marahnya sampai membuatnya menderita sakit, siapa lagi yang bisa menggantikan penyakit anda? Ada sebuah ungkapan mengatakan: “Orang lain membuat saya marah tapi saya tak terpancing, kalau saya sampai marah berarti masuk perangkapnya, lagi pula kalau sampai sakit gara-gara marahnya, tiada orang yang mau menggantikannya, tak perlulah marah, tak perlulah marah, sungguh yakin tak perlu marah!” kalau bisa berpemikiran seperti itu, maka ibaratnya barang yang panasnya menyengat mendapat guyuran air dingin, dan dengan sendirinya kemarahannya menjadi terpadamkan, sirna sama sekali!

Seperti kita ketahui semua, bahwa sesungguhnya soal marah itu memang tiada gunanya, terkecuali seperti marahnya raja Wen Wang (dinasti Cou), sekali marah maka seluruh jajaran di bawah pemerintahannya langsung bisa diperintah dengan teratur, kalau bisa seperti itu memang layak untuk marah, sekalipun dengan marahnya sampai mengakibatkan terancam nasibnya, juga masih terhitung patut. Inilah yang dikatakan ‘mengorbankan si aku yang kecil untuk menyempurnakan si aku yang besar’, jika marah nya takkan bisa membawa pengaruh yang besar, memang rasanya tak perlu marah! Apalagi setiap orang tentunya enggan berhadapan dengan orang yang sedang marah, kalau dirinya enggan (dimarahi), mengapa harus melakukannya (marah) terhadap orang lain?

Disamping itu, marah juga bisa menyebabkan orang jatuh sakit! Susunan biologis manusia itu memang sungguh ajaib, orang sesudah marah besar, pasti dalam suatu waktu tertentu akan merasa letih sekali, mengapa? Karena sewaktu marah besar, dari dalam badan manusia lalu mengeluarkan toksin, kemudian disusul dengan mengeluarkan anti-toksin yang bekerja untuk menetralkannya, yaitu untuk melarutkan toksinnya, nah, saat proses tersebut berlangsung, saat itulah yang akan terasa letih sekali. Akan tetapi sekalipun telah dinetralkan, tetaplah tidak bisa tuntas kerjanya, bagaimana pun pasti masih ada sisa toksin yang tertinggal. Jika sering-sering marah, maka sisa toksin yang tertinggal di dalam tubuh akan terjadi penumpukkan terus, sampai pada titik jenuhnya, saat itulah yang sering dirasakan orang terasa sesak sekali dadanya, sementara orang kadang lalu meneguk minuman berkadar alkohol (minuman keras) untuk menghibur dirinya. Apa daya semakin meneguk minuman beralkohol malah semakin gundah pikirannya, dari sebab (marah), lalu dipengaruhi (faktor pendukung) (oleh minuman beralkohol), terpadunya dua unsur itu maka timbul akibatnya (jatuh sakit), sehingga sampai terjadi pendarahan di otak, atau syndrome pecahnya pembuluh vaskuler, kejadian kasus seperti itu sering kali kita dengar.

Jika ingin supaya damai hatinya dan ramah pembawaannya, maka terasa perlu untuk membina hati dan melatih watak. Yang dibina hatinya, yang dilatih wataknya. Arti membina (membina diri atau membina hati) dalam bahasa mandarin disebut Siu, arti kata Siu mengandung makna merubah dan memperbaiki, membetulkan, membina hati berarti merubah tabiat dan kebiasaan buruk, meninggalkan cara berpikir yang egois serta pandangan yang miring (kurang benar), sedangkan yang dimaksud dengan melatih yaitu diasah dan ditempa, jika ingin melatih watak, maka harus banyak bergaul dengan orang, banyak melibatkan diri dalam pekerjaan atau pengurusan, sering-seringlah menerima asahan, tempaan, cobaan, teguran, fitnahan dan lain sebagainya dari orang di sekitarnya, sekalipun sampai disalahkan orang dengan tanpa mendapatkan pelurusan permasalahan yang sebenarnya (mendapat perlakuan yang tidak adil), juga tak perlu menggerutu atau mengomel, tak perlu membantah; kalau dibantah, nantinya malah terjadi kontroversi (bahan gosip), dan terpuruk dalam dua ekstrim, bukan lagi jalan ‘Tengah’. Dalam hal ini nabi Lao Tze ada berkata : “Orang yang berkebajikan tiada berbantah atau berebutan.” Sesungguhnya apa yang beliau katakan memang mengandung hakekat kebenaran yang sejati.

(c) Senantiasa bersyukur :

Manusia sejak keluar dari kandungan ibunya, sudah langsung dengan tak hentinya menerima berbagai budi kebaikan, diantaranya: budi langit yang menaungi (menutupi), bumi yang memuat beban, matahari dan rembulan yang menyinari, negara yang mengayomi dan menunjang, orang tua yang membesarkan, guru yang mendidik, teman yang saling membantu, saling belajar dan tukar pengalaman, di mana saja selalu terdapat budi kebaikan. Kata orang, mengerti menerima kebaikan orang tapi tak membalasnya, maka bukanlah termasuk seorang susilawan, merasa mendapat kebaikan dari orang, lalu berusaha untuk membalasnya, barulah merupakan yang wajar dan normal di dalam hubungannya dengan sesamanya.

Berterima kasih merupakan wujud keharmonisan yang tertinggi, keharmonisan yang sejati, tiada orang yang berterima kasih kepada orang dengan rasa membenci. Pada dasarnya manusia tidak mempunyai hak untuk membenci orang lain, dunia ini sebenarnya adalah alam semesta yang relatif, dengan adanya penghargaan (apresiasi) tentu ada pencelaan (penilaian buruk), ada pujian tentu ada kecaman, ada reputasi yang baik tentu ada cercaan atau cemoohan, ada sisi yang terang tentu ada sisi yang gelap. Tak pandang apakah itu merupakan penghargaan atau pencelaan, pujian atau teguran, tujuannya tak lain adalah untuk menggembleng seseorang, menyempurnakan seseorang.

Keuntungan yang nyata yang didapat dari seringnya berasa terima kasih, sungguh jauh melampaui dari yang bisa diperoleh dengan ‘bersabar hati’. ‘bersabar hati’, hanya ‘mengekang diri untuk tidak menangkis celaan atau hinaan orang’, tapi rasa jengkelnya tetap masih ada. Akibat dari pemaksaan untuk bersabar, meskipun bisa meredakan situasi, sehingga tiada timbul gejolak masalah lagi, akan tetapi belumlah mencapai keharmonisan yang sesungguhnya, kemungkinan dirinya masih akan terluka (hatinya). Banyak sekali penyakit yang ditimbulkan oleh adanya berbagai macam ganjalan hati pikiran yang belum bisa diluruskan yang karena merasa tidak mendapatkan keadilan, dan ini sebagai akibat dari seringnya terjadi pertarungan dalam batin dirinya.

(d) Memilih dan mengikuti yang baik untuk terus dipegang teguh (sebagai pedoman) :

Dalam hal memilih, butuh suatu keputusan, jika ingin pilihannya tepat, keputusan yang diambil tidak keliru, itu memerlukan kecerdasan nurani yang tinggi. Mengapa ada sementara orang rela mengorbankan masa hidupnya yang hanya berpuluh tahun harus ditinggal mati, untuk ditukar dengan terbentuknya fundamen yang takkan usang selamanya ditelan oleh masa, dan itu adalah merupakan hasil keputusan dalam kajiannya yang menggunakan kecerdasan nurani yang tinggi. Dari sini dapatlah disimpulkan, bahwa ternyata, dalam hal ‘memilih’ adalah merupakan suatu ‘ilmu’ dari kecerdasan seseorang. Yang dimaksudkan dengan kata ‘baik’ di sini adalah kebaikan dalam arti sesungguhnya, kebaikan yang sejati. ‘Baik’ yang sejati tiada mengandung unsur egois yang mementingkan diri nya sendiri, yang ada hanyalah mementingkan kepentingan orang lain, tak untuk dirinya, bahkan kadang mengorbankan kepentingan dirinya demi untuk orang lain. Sama sekali bukanlah seperti adanya sementara dermawan, yang ternyata memulai ‘usaha’nya atas nama ‘amal’, sungguh tak bisa dipahami. Nyatalah bahwa, ‘baik’ atau ‘bajik’ merupakan pengembangan kasihnya yang cukup tinggi.

‘Pegang teguh’ merupakan wujud nyata dari keberanian. Sekalipun mendapat cobaan yang bertubi-tubi, takkan pantang mundur selamanya; diumpamakan bahkan gunung Thai San runtuh di hadapannyapun tetaplah bergeming, desauan (suara amukan gelombang) tsunami ada di belakangpun tak teriak kaget, keberanian sejati yang tak gentar menghadapi malapetaka besar yang mendekat. Semakin digagalkan semakin bersemangat, semakin bertarung semakin berani; sama sekali bukanlah semacam keberanian yang gegabah atau yang membabi buta saja yang asal berani.

Memilih dan mengikuti yang baik untuk terus dipegang teguh, kalau dipikir dari pembentukan kata-katanya, berarti sebelum ada yang dipegang teguh, harus memutuskan yang baik yang dipilihnya; jika tanpa melalui pilihan langsung dipegang teguh, maka cenderung menjadi kepala batu dan sulit untuk diperbaiki atau dinasehati, dan menjadi tidak mengenal kebenaran dan kaku (jadi bodoh). Setelah memilih yang ‘baik’, maka masih harus diperteguhkan. Memilih yang baik adalah tergolong ‘paham’ atau ‘mengerti’, sedangkan memegangnya dengan teguh ialah tergolong ‘pelaksanaan’; jika hanya sekedar memilih saja tapi tidak dipegangnya teguh (dijalankan), maka sulitlah untuk mencapai keberhasilan; jika tidak diniati dan diupayakan untuk dijalankan, bagaimana bisa mendapatkan pengetahuan yang sejati? Pada akhirnya hanyalah mempunyai hati baik yang mubazir, yang kurang didukung dengan perbuatan yang benar, yang artinya kurang ketabahannya dalam mengimplementasi kan (menerapkan, menjalankan dengan nyata), dan masalah inilah yang sering dicibir orang selama ini tentang ciri penyakit kita sebagai bangsa kita oleh pihak asing! Sudah tak jarang lagi misalnya banyak orang yang setelah menjumpai pengemis jalanan yang cukup kasihan, paling-paling juga hanya menggeleng-gelengkan kepala saja sambil berkecamuk mulutnya mengatakan: oh, kasihan! Kasihan! lalu ditinggal pergi begitu saja, apa gunanya?

(e) Sebarkan yang baik, sembunyikan yang buruk

‘Yang bisa memandangnya secara tepat adalah naga, sedangkan yang tak bisa memandangnya secara tepat adalah ulat.’ ‘Jika memandang orang kian pandang kian enak dipandang, itu artinya rintangan karmanya sedang berkurang’, menyebarkan yang baik dan menyembunyikan yang buruk memang ada perlunya.

‘Anak kecil selamanya menuju ke arah dipuji-puji untuk tumbuh berkembang’, Pepatah orang Taiwan: “anak selalu minta di puji.” Memang benar adanya, dengan pujian maka akan memperpendek jarak antara kedua orang, tidak saja bagi sang anak, jika ada orang memuji anda: “Wah! Pakaianmu ini sangat indah.” anda tentu bisa tanpa berpikir banyak celetuk ngomong: “Oh ya! Orang-orang juga mengatakan demikian.”

Menyembunyikan keburukan orang bukan berarti tidak ada buruknya, sedangkan menyebarkan kebaikan bukan berarti semuanya baik. Pada hakekatnya, menyebarkan yang baik dan menyembunyikan yang buruk hanyalah merupakan tahap proses, asalkan mutu alam batinnya bisa ditingkatkan terus menerus, pandangan pun ikut berubah oleh karenanya, sampai pada akhirnya dirinya dipuji ataupun dicela tetap saja bergeming, tak merasa ada yang dirugikan pada dirinya. Fitnahan, reputasi yang baik, keperolehan, kehilangan, pemuliaan dan penghinaan, semuanya dapat dipandangnya sebagai kesatuan, sungguh-sungguh telah mencapai tingkatan ‘tak lagi mempersoalkan keperolehan atau kehilangan, disenangi atau dibenci’, semuanya bisa dilupakannya, semuanya dianggapnya demi untuk kebaikan diriku.

2. Berfigur raja diluarnya---menjalankan karya suci dengan menanam kebajikan :

Pepatah mengatakan ‘dirinya baik, tak terhitung baik; semua orang baik, barulah dikatakan baik.’ Kini rongga dirinya sudah dibukakan, bisa hidup leluasa, setiap hari dapat berseri-seri wajahnya, setiap saat terasa berada di surga, dirinya berbahagia sedemikian rupa, akan tetapi tidak hanya puas dengan kebahagiaan demikian, lebih jauh mengambil tanggung jawab umat dunia sebagai tanggung jawab dirinya. Setiap kali melihat ada umat hanyut di dalam ombak dosa karma lautan derita, dengan keningnya terkerut cemas, berkeluh kesah meratapi nasibnya, tak berdaya untuk mengentaskan dirinya, melihat keaadaan umat seperti itu, maka hati kecilnya terasa tercela. Merasa mengapa dirinya tak bisa keburu untuk menyadarkan dia, untuk memberi ‘pukulan pentung mendadak diatas kepalanya dan meneriaki dihadapannya’ agar segera sadar, dengan sepatah kata menyadarkan orang yang masih terbuai dalam mimpi. Agar orang lain juga bisa sama seperti kita, terentaskan dari lautan derita, dan mendarat di pantai seberang sana, sehingga juga bisa menikmati kebahagiaan dan kehangatan dalam kehidupan. Pelintasan umat yang dilakukan dengan tekun oleh umat Thien Tao kita, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Tao bisa menyebar ke seluruh manca negara, sama sekali adalah karena dorongan dan panggilan dari sebuah ‘hati nurani’ ini.

Bapak Guru Suci dengan welas asihnya menasehati kita: “Jika kaki tak bergerak, maka biarlah mulutnya yang bergerak; jika mulutnya tak bergerak, maka biarlah kakinya yang bergerak”. Umat Thien Tao kita bisa ringan kaki dan mulut, tekun pergi ke mana-mana demi Tao, tekun menasehati demi umatnya, tak takut untuk bersusah payah, tak bosan-bosan melakukannya, tak mempermasalahkan waktu, tenaga dan pikiran yang dicurahkan, tak mempersalahkan sampai mulutnya koyak lidahnya kering, ini tak lain adalah ingin menuruti nasehat Guru Suci kita, meneruskan cita-cita beliau, menghayati pikiran hati Guru.

Setiap orang adalah objek yang akan saya lintaskan, setiap saat adalah kesempatan baikku untuk melakukan pelintasan, di mana saja adalah ajang tempat aku melakukan pelintasan, setiap permasalahan adalah merupakan bahan tema bagiku untuk kubawakan dalam melintaskan umat. Ketemu satu, lintaskan satu; ketemu dua, selamatkan keduanya. Ada Ibunda Suci, para roh Suci dan malaikat dari berbagai alam yang menjadi penyokongku, apa yang ditakutkan? Berpikir sampai di situ, keyakinan jadi jauh bertambah besar, tak perlu ragu-ragu lagi. Pepatah mengatakan: Menolong satu jiwa umat, pahalanya jauh melebihi dari membangun tujuh tingkat pagoda; menolong orang hendaknya tuntas sekalian, ibarat mengantar Budha hendaknya secara tuntas diantarkan sampai surga, tidak hanya sampai di tengah jalan saja.

Bapak Guru Suci dengan welas asihnya menasehati kita lagi: “Harta kekayaan adalah diberikan kepada orang yang rajin, hemat dan mau beramal.” Kita semuanya tahu, bahwa ‘rajin dan hemat bisa membuat kaya’, rajin bisa membuka sumbernya, hemat bisa membatasi pengeluarannya, masih harus ditambah dengan bisa beramal, menggunakan harta kekayaan duniawi untuk membeli tanah di surga, alangkah menguntungkan!

Pada umumnya, orang-orang itu punya uang atau tak punya uang, sama saja semuanya amat menderitanya. Jika tak punya uang, akan terasa dunia ini tak adil, dia lalu berlagak mau menegakkan keadilan demi Yang Maha Kuasa, dia mau merampas harta kekayaan orang kaya untuk menolong orang miskin. Siapa yang kaya? Anda; siapa yang miskin? Aku; maka terpaksalah aku merampas harta kekayaan anda, ini namanya ‘ketika perut lapar dan badan kedinginan maka timbullah pemikiran hati untuk merampok’. Jika punya uang, dia akan merasa bahwa uang itu adalah hasil keringat saya, saya ingin pergunakan untuk apa adalah hak saya; lalu digunakannya untuk pergi ke berbagai tempat hiburan yang bukan-bukan, ke nite club, ke karaoke, ke panti pijat, ke lorong-lorang lampu merah, ini namanya ‘sesudah bisa makan kenyang dan berpakaian serba enak dan hangat, lalu timbullah pemikiran untuk berfoya-foya dan mencari prostitusi’, yang satunya di depan tadi mengundang kekerasan, yang satunya lagi lalu terhanyut kedalam laku porno, semuanya bukanlah cara-cara dan tujuan yang baik.

Akan tetapi lain halnya dan sama sekali berbeda dengan orang yang ada membina jalan ke-Tuhanan, punya uang atau tak punya uang sama-sama leluasa. Tak punya uang itu nasibku sendiri, setidaknya aku harus menyadari posisi keadaanku sendiri, tenang dalam serba kebersahajaan dan berbahagia dengan ke-Tuhanannya (Tao); sedangkan yang punya uang akan menyadari bahwa kesemuanya ini merupakan karunia Tuhan, aku harus baik-baik memanfaatkannya, daripada uang itu kupakai untuk makan enak yang mengorbankan jiwa makhluk, lebih baik kugunakan untuk beramal---kaya tapi suka menghargai orang, dan menolong orang yang dalam keadaan susah.

Bapak Guru Suci kembali berwelas asih menekankan: “ Membina dalam Tao memang perlu melalui ujian, sedangkan yang tidak membina jalan ke-Tuhanan, akan tertimpa bencana.” Sebagai murid Budha hidup Ci Kung hendaknya rela menerima ujian daripada tertimpa bencana; menerima ujian masih bisa diangsur secara berjangka, sedangkan tertimpa bencana malah cukup satu kali selesai. Tao nan sejati harus melalui ujian sejati barulah dapat dibuktikan hatinya memang sejati pula. Di dalam proses membina Tao, memang tak terhindari harus menerima ujian. Apakah itu mendapat ujian, apakah itu harus bersusah payah, kesemuanya harus diterimanya dengan senang hati dan lapang dada; tak takut akan kesulitan dan kesusah-payahan; kalau kebetulan ada urusan, ya hadapi, layani dan kerjakanlah dengan baik-baik, dengan sepenuh tenaga ditanggungnya; tapi jika urusan sudah tiada, maka tenangkanlah pikirannya, sepenuhnya ditanggalkan (ikatan duniawinya). Entah kapan nanti jika tiga ribu amalnya dan delapan ratus pahalanya (hasil perbuatan baik) sudah tercukupi, saat itulah saatnya mencapai kesempurna an kembali ke kampung halaman di surga, namanya pun tertinggal harum dikalangan umat, dengan sendirinya akan mendapat anugerah kedudukan teratai untuk diberikan kepada anda. Bapak Guru Suci berkata dengan welas asihnya: “Kedudukan teratai hanya diberikan kepada orang yang pencerahan batinnya dan amal kelakuannya keduanya sama sempurnanya.” Demikianlah, marilah kita saling memberi semangat dan dorongan.

Rabu, 03 Desember 2008

Busway equals with life

by: Sandy Gunarso Wijoyo, S.Kom.

Hidup bagai busway (jalur bus)?

Benarkah?

Mari kita logikakan.
1. Busway merupakan jalur alternatif dari jalan utama. Sementara, kehidupan juga selalu ada jalur alternatif untuk di lalui.

artinya: dalam kehidupan ini, asalkan kita bisa kreatif memanfaatkan yang ada dan dapat rajin bekerja tanpa putus asa, maka banyak jalan yang dapat kita lalui.

2. Saat kita berjalan di Jalan utama dan macet, semua orang akan terpikir untuk berpindah arah ke busway. dan ingin berjalan lancar terus tanpa hambatan.
sementara, hidup yang kita lalui pun inginnya lancar dan mulus tanpa hambatan. baik itu karier ataupun percintaan.

artinya: Hidup itu pasti ada pilihan. Sulit dan lancarnya itu ada ditangan setiap yang menjalani. Pilihan selalu kita yang menentukan. Bila kita suka dengan kemacetan ya lalui saja jalanan yang macet. Kalau tidak ya pilihlah jalur alternatif lainnya.

3. Jalur bus itu terlarang, bukan?
kenapa ada kecenderungan dari kita untuk melaluinya? dan setelah kita terjebak di dalamnya, kita pun kembali mengeluh dan berjuang untuk keluar darinya.
Kehidupan pun hampir sama, bukan?

Artinya: Manusia ini terkadang seringkali memilih jalan yang membahayakan dirinya sendiri hanya demi kesenangan dan kepuasan bathin. Bahaya dan ketidakbenaran menjadi soal ke berapa, asalkan bisa hidup lancar dan bahagia, semua dianggap benar dan sah.
Dan bila sudah terbentur dan mendapatkan kesulitan dari ketidakbenaran yang dicuptakan sendiri, mereka justru berjuang keras untuk menutupinya dan berusaha untuk keluar dari masalah dengan berbagai cara. Bahkan mereka tak lagi perduli pada keluarga dan dirinya sendiri. Asalkan masa depan aman, semua di halalkan untuk ditukar dengannya.

4. Tidak semua jalur bus itu mulus. Terkadang ada yang rusak dan bergelombang juga. Tapi ketika kita melaluinya, kita merasa terbiasa dan tak menghiraukannya.
Kehidupan hampir sama dengan itu.

artinya: Hidup normal pun banyak mengalami pasang surut. Gelombang yang menerpa kehidupan pun tak sedikit. Nah, apalagi bila kita memilih hidup di jalur yang salah. Tentu tidak semulus yang kita pikirkan. Mungkin awalnya mulus, tapi bila ada yang lebih, wah celakalah kita.

Namun, ketika putus asa, dan tak ada jalan lain, kita sering kali memilih jalur yang kurang baik, dan belajar keras untuk senang menjalaninya. Tentu saja tidak semudah hidup normal sebagai orang baik. Persaingan di dunia hitam itu, jauh lebih berat dibandingkan persaingan di dunia normal. Tapi bagi yang sudah masuk ke dalamnya, menjalaninya dengan berusaha baik dan tidak berhenti sampai tanpa sadar tubuhnya hancur terkoyak oleh waktu.

Penggambaran tadi mungkin hanya sebagian dari persamaan antara kehidupan dengan jalur bus. Coba lihat deh. Pasti benar-benar sama.

Rabu, 26 November 2008

Mengapa harus ada surat kontrak kerja

Kata orang dunia sudah semakin hebat.
Pembangunan dari setiap sektoral sudah berjalan dengan baik.

Namun kenapa di dunia kerja masih mengenal kontrak kerja yang bertele-tele.

Ada empat jenis orang dalam dunia kerja.
pertama: rajin di depan, malas belakangan.
dua: rajin terus sampai dia pensiun.
tiga: malas di depan, rajin setelah ditegur.
empat: malas terus sampe dia dipecat.

Empat orang diatas akan sangat berbeda memandang surat perjanjian kontrak.

orang pertama dia tergolong tipe cari muka. artinya dia menganggap posisinya akan aman bila dia rajin di masa kontrak dan malas setelah dia diangkat menjadi karyawan tetap.
Ujung-ujungnya dia sama sekali tidak menghargai atasan ketika dia menjadi karyawan tetap. anggapannya bahwa setelah dia menjadi karyawan tetap, maka dia akan aman dari istilah pemecatan.
Tipe semacam ini banyak sekali di kantor-kantor sekarang.
Akibatnya sangat mempengaruhi mereka yang sungguh-sungguh mau bekerja dan bersemangat untuk mengabdikan diri pada atasan dan perusahaan.
Dan anehnya, BOSS itu lebih memilih orang-orang dengan tipe pertama sebagai karyawannya.

Tipe kedua ini jarang ditemui.
Dia bersedia rajin dan terus mempertahankan sikapnya itu selama dia bekerja dari pertama dia masuk sampai dia pensiun.
Semangat dan kerajinan dalan dirinya seakan tak pernah habis dan selalu berkobar bagai sumber api alam.
Apa pun yang dia lakukan hanya satu yaitu untuk memajukan perusahaan dimana tempatnya digaji dan menghidupinya.
Nah, bagi orang tipe ini, surat perjanjian kontrak itu justru akan menyiksa dan membuatnya terbelenggu oleh ketidak pastian masa depan. seperti sapi yang diikat dengan tali yang terbuat dari besi yang keras.
Akibatnya segala upaya dia untuk selalu rajin dan bersemangat akan jatuh ketika dia memikirkan bahwa dia masih karyawan kontrak.
Hatinya gundah gulana sehingga dia tidak dapat memaksimalkan apa yang dia upayakan sampai saatnya nanti.
Alangkah kasihan bila orang tipe ini terus digantung dengan ketidakpastian.
Ya, jawabnya sih cuma satu. Kalau karyawan dengan tipe kedua dipermudah langsung menjadi karyawan tetap maka alhasil dia akan menjadi tipe pertama atau ketiga(nanti).
Tapi apakah seseorang akan sanggup rajin selalu datang kerja pada kisaran waktu yang sama, dengan porsi kerja yang sama selama beberapa tahun (misalnya).
Kalo ada orang seperti itu ya dialah pemilik karakter ke dua ini.
Jadi ya bagi atasannya segeralah mengangkat dia menjadi karyawan tetap, keburu jenuh dan pindah ketempat lain yang lebih menghargainya. Jaman sekarang sangat sulit menemukan orang rajin bekerja. Orang pintar sih banyak, Tapi yang mau bekerja dengan rajin itu yang sulit ditemui.

Tipe ketiga ini orangnya lucu.
Sama seperti kerbau yang harus selalu diingatkan. Tunggu di pecut dulu baru jalan.TUnggu didikte dulu baru melakukan.
Inisiatifnya sama sekali rendah.
Justru orang seperti ini yang digemari para boss besar.
Sebab orang sekarang ga mau disaingi oleh orang lain. sehingga tipe ketiga ini lah yang menjadi kegemaran para Boss besar. Tinggal diancam pecat langsung dia bisa mengahsilkan banyak proyek dan uang.
Lucu kan...

tipe ke empat justru keblaikan dari semuanya. tipe dengan karakter 100% MALAS.
mungkin sikap dan sifat itu sudah menjadi karakteristiknya yang melekat dalam kepribadiannya.
ah..capek deh kalau bertemu dengan karyawan dengan tipe ini.
Maunya enak, santai, dan banyak uang.
Mendingan segera diPHK dan cari atau latih karyawannya agar mempunyai mental seperti tipe kedua atau minimal tipe pertama.

ya itu hanya sekedar tulisan dan anggapan dari dalam diriku.
semua itu hanya buah pikiran. Jadi baca dengan santai ya..

salam hangat,
Sandy